Makna Idul Kurban bagi Transformasi Sosial

 

images-11Hari Raya Idul Adha atau Idul Kurban menyimpan banyak harapan untuk self cleaning, menjanjikan peleburan jiwa ke dalam proses penemuan jati diri dan harga diri. Kalimat takbir, tahmid, dan tahlil yang dikumandangkan pada prinsipnya bukanlah apa-apa, melainkan ia hanya sebuah ekspresi ketakjuban, refleksi kekaguman spontanitas, totalitas kepasrahan atau peleburan diri ke alam yang kasat mata namun nyata.

 

Kalau boleh diandaikan bahwa semangat Idul Kurban itu dinamis, sejatinya ia tidak hanya berhenti untuk memperkaya horison pengalaman beragama secara individual, tapi juga berlanjut implementasinya pada dataran empiris-sosial. Dengan kata lain, ia berimplikasi meningkatkan kualitas penghayatan individu terhadap universalitas nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, kedudukan agama bukan semata-mata cultus privatus, tapi juga cultus publicus.

Sementara itu, masyarakat kini tengah mengalami apa yang disebut transformasi sosial sebagai dampak dari arus modernisasi. Transformasi ini mendesak setiap anggota masyarakat untuk menguji kembali validitas beragam konvensi yang dilahirkan oleh lembaga-lembaga sosial dan kebudayaan dalam rangka survive dan revive.

Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Membangun Moral di abad Global

Oleh : Khoirul Anwar

“if religion without morality lacks a solid earth to walk on, morality without religion lacks a wide heaven to breath in”.(Jika agama tanpa moralitas, kekurangan tanah untuk berjalan diatasnya, jika moralitas tanpa agama, kekurangan surga langit untuk bernafas).

Kata-kata Prof. John Oman yang di kutip oleh Dr. Faisal Ismail diatas mengajak kepada kita untuk menilik kembali terhadap pandangan kita yang selama ini kita pegang khususnya dalam hal memperbincangkan dalam kemajuan suatu bangsa.Kemajuan suatu bangsa tak hanya di ukur melalui patokan kemajuan teknologinya dan GNP nya semata tetapi juga harus dilihat kelakuan masyarakatnya seperti yang tertulis dalam syairnya Ahmad Syangu, “sesungguhnya ini suatu bangsa terletak pada akhlaknya, jika akhlak mereka bejat hancurlah bangsa itu“.

Baca pos ini lebih lanjut

Hidupkan Malam di Bulan Ramadhan

Waktu malam pada bulan Ramadhan memiliki kesan khusus yang berbeda dengan seluruh malam dalam setahun. Inilah di antara keistimewaan Ramadhan. Anda melihat shalat malam begitu mudah dilaksanakan oleh semua orang. Hingga Anda menjumpai sebagian orang yang tidak mengerjakan shalat wajib di luar Ramadhan, mereka mengerjakan shalat malam pada bulan Ramadhan, meski dengan niat yang berbeda-beda.

Shalat malam (disebut shalat tarwih di bulan Ramadhan), agar dinilai sebagai amal shaleh, harus lahir dari niat yang ikhlas. Bukan sekadar turut ramai. Atau bagi muda-mudi, sebagai ajang mencari pasangan.

Baca pos ini lebih lanjut

Membangun Moral Bangsa

Oleh : Dr. Tarmizi Taher*

Dari mana kita mulai membangun bangsa ini? Pembangunan kembali negeri ini harus mulai dari etika, moral, dan nilai. Prof Sutan Takdir Alisyahbana, pemikir hebat Indonesia, waktu dikejar oleh Bung Karno membuat tesis di Stanford University dengan judul Values as Integrating Forces in Personality, Society and Culture.

Kebudayaan dapat dipandang sebagai kumpulan nilai-nilai. Kebudayaan adalah etika dan moral serta budi pekerti masyarakat. Dalam bahasa barat, culture dan civilization tidak ada hubungan langsung dengan mind, moral,atau ethics. Hanya bahasa Indonesia yang mempunyai hubungan langsung antara budi dan kebudayaan. Jelas sekali bahwa bagi bangsa Indonesia kebudayaan dipengaruhi budi-daya.

Baca pos ini lebih lanjut